c Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 3. Keputusan Menteri Republik Indonesia a. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih. b. BidangPengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. Home. Profil. TENTANG. pemulihan akibat pencemaran dan penanggulangan kecelakaan pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan pengawasan Pelaksanaan Sistem Tanggap Darurat serta pengawasan terhadap penaatan persyaratan yang tercantum dalam izin pembuangan air limbah ke air atau Untukmengelola bahan buangan industri (limbah), yang dikenal dengan bahan buangan berbahaya, setiap individu yang terlibat di dalam penanganannya memerlukan wawasan dan identifikasi yang benar terhadap bahan berbahaya tersebut. MATERI. Introduction; Melaksanakan Pengolahan Limbah B3; Melakukan Pemanfaatan Limbah B3 MUHAMMAD Zainur Rifqi (2022) Kepatuhan Hukum Terhadap Kepemilikan Izin Pembuangan Limbah Cair Pada Industri Pengolahan Kedelai Berdasarkan Pasal 1 Angka (62) Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Air Limbah. Skripsi thesis, Universitas Jenderal Soedirman. 2 ) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) h arus dilengkapi dengan; a. Peta lokasi pembuangan limbah cair dan pengambilan air dengan skala 1: 5000. b. Gambar Konstruksi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) serta saluran pembuangan limbah; c. Persetujuan ANDAL, RKL, RPL, UKL, UPL dan SPPL; d. mengandungbahan pencemar (kontaminan) organic dan anorganik. Pencemaran air akibat buangan limbah cair industry mempunyai beberapa manifestasi, seperti dampaknya terhadapa sifat fisis badan air, dampaknya terhadap kehidupan fauna dan flora dalam air, dampaknya terhadap lingkungan secara umum. 2. GAMBARAN UMUM LIMBAH CAIR INDUSTRI 2.1. Saranyangdapat diberikan adalah, perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia yangada pada BPLHD Provinsi Jawa Barat, BPLH Kota Bandung, Kantor LingkunganHidup dan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum tentang kemampuan dalammemahami pengendalian pencemaran lingkungan hidup khususnya pencemaranair, karena dengan sumber daya manusia yang EFEKTIVITASPENANGGULANGAN TERHADAP PENCEMARAN AIR LAUT DI KELURAHAN SUNGAI PAKNING KECAMATAN BUKIT BATU BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH . Tersimpan di: Main Author: Juni Saputra, - Format: Thesis NonPeerReviewed Book: Bahasa: eng: airdan udara serta pengendalian pencemaran lindi dan data sosial ekonomi); 3. Survei lapangan dan Sampling; 4. Analisis data (data pengelolaan sampah kota, data kualitas air dan udara serta pengendalian pencemaran lindi dan data sosial ekonomi); dan 5. Penyusunan hasil kajian. BidangPengendalian Pencemaran dan Konservasi Lingkungan Hidup; Salah satu upayanya dilakukan dengan pengelolaan air limbah. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga, yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi tzlSUCa. Buku ini merupakan Diktat Kuliah untuk Mahasiswa Teknik Kimia dalam rangka mengenal Pengelolaan Limbah Industri. Pembahasan dimulai dari isu isu lingkungan global, regional dan lokal; peraturan peraturan yang berkaitan dengan lingkungan; usaha usaha pencegahan pencemaran dan teknologi pengolahan pencemaran air, udara dan limbah padat. Gambar Neraca Karbon Untuk Proses Biometanasi Pertumbuhan bakteri selain memerlukan karbon dan sumber energi juga membutuhkan garam-garam organik untuk sintesa material. Massa sel bakteri dasar kering mengandung 54% karbon, 20% oksigen, 10% hidrogen, 12% nitrogen, 2% fosfor, 1% sulfur dan sisanya sodium, kalium, kalsium, magnesium, beberapa trace element seperti besi, mangan, molybdenum, Zn, Cu, Ni, dsb. Scherer, dkk 1980 menunjukkan bahwa pertumbuhan mikroorganisme metanogenesa, Methanosarcina barkeri tergantung pada Co dan molybdenum. Schoheit, dkk 1978 menemukan bahwa pertumbuhan Methanobacterium thermautotrophicum tergantung pada nikel. Pembentukan sel 1 gram berat kering memerlukan sekitar 150 nmol nikel. Nikel umumnya diperlukan untuk mikroorganisme metanogenesa. Hal ini disebabkan karena MM mengandung kofaktor Tetrapyrole nikel, F 430 yang terlibat dalam pembentukan metana Sahm, 1984. Air limbah biasanya mempunyai nutrien mikro dan nutrien makro. Idealnya untuk proses anaerobik kandungan C N P = 700 5 1 Sahm, 1984 atau 580 7 1 Malina, dkk, 1992. Pada umumnya air limbah industri tak mencukupi kebutuhan nutriennya dan harus ditambah dari luar sistem. Proses anaerobik umumnya membutuhkan trace element yang lebih bervariasi dibandingkan sistem aerobik. Penambahan mikro nutrien Fe, Ni, Co, Mo… Figures - uploaded by Tjandra SetiadiAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Tjandra SetiadiContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB IV – halaman 0 Diktat Kuliah TK-366 PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI SUB PROYEK QUE-BATCH III Oleh Tjandra Setiadi, Ir., Retno Gumilang Dewi, Ir., DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2003 Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 1 BAB V PRINSIP PENGENDALIAN PENCEMARAN BADAN AIR DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH Teknologi pengolahan air limbah industri merupakan teknologi yang berkembang setiap saat sehingga sangatlah sulit untuk menyajikan seluruh teknologi yang tersedia dalam bab ini. Pada bab ini akan dibahas teknologi-teknologi yang telah dikenal dan digunakan luas di lapangan. Pembahasan akan difokuskan pada rangkuman teknologi tersebut beserta kelebihan dan kekurangan dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi. Namun, sebelum membahas teknologi pengolahan air limbah industri, terlebih dahulu akan dibahas mengenai pencemaran badan air dan pengendaliannya serta parameter kualitas dan karakteristik air limbah. Pencemaran Badan Air dan Pengendaliannya Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik rumah tangga maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh, kepadatan penduduk kota Jakarta menyebabkan jarak antar rumah penduduk semakin berdekatan, terutama di daerah padat, sehingga letak septic tank, cubluk, dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah NKLD DKI 1997. Beberapa sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli, yaitu dari 636 titik sampel air tanah yang diuji terdapat 285 sampel yang mengandung bakteri E. coli. Sedangkan secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air baku untuk air minum. Parameter yang melebihi baku mutu adalah nitrat, nitrit, besi, dan mangan. Adanya nitrat dan nitrit menujukan air tanah telah tercemar oleh zat organik. Dalam hal kualitas air sungai, berdasarkan hasil pemantauan terlihat bahwa secara umum kualitasnya sudah tidak sesuai dengan peruntukannya dan cenderung memburuk dari tahun ke tahun. Mengamati kondisi lingkungan yang cenderung memburuk, maka pengelolaan air limbah sudah harus dilaksanakan secara baik dan menyeluruh disamping peningkatan pengawasan terhadap pembuangan limbah dari sumber-sumber pencemaran antara lain melalui program kali Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 2 bersih Prokasih, gerakan hemat air, penerapan izin pembuangan air limbah, peningkatan pelayanan air minum, dan perbaikan sanitasi terutama pada kawasan permukiman yang padat. Kegiatan pengelolaan air limbah ini perlu didukung oleh peningkatan peran serta dan partisipasi masyarakat dan pemerintah. Beberapa data dari BPLH DKI Jakarta menyebutkan bahwa prosentasi jumlah limbah domestik yang diolah dalam tangki septik rata-rata 39% dan cubluk 20%, sisanya kemungkinan dibuang langsung ke badan air. Sementara itu saluran air buangan domestik sistem terpadu yang tersedia di DKI Jakarta saat ini baru mencakup 2,1% dari total limbah. Menurunnya kualitas badan air seperti air tanah, air sungai, dan air laut akibat pembuangan air limbah yang kurang baik terutama disebabkan oleh ο‚· Kurangnya sarana dan prasarana sistem perpipaan air limbah domestik. ο‚· Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air limbah. ο‚· Masih tingginya penggunaan air sungai dan air tanah oleh masyarakat sebagai sumber air bersih. ο‚· Rendahnya tingkat ketaatan para pengusaha terhadap peraturan pembuangan air limbah. Oleh karena itu, untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas badan air sesuai dengan peruntukannya dan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam pengendalian pencemaran badan air, pemerintah daerah melalui BPLHD / BAPEDAL melakukan kegiatan antara lain 1. Pelaksanaan Program Kali Bersih Prokasih yang mencakup sebagian besar propinsi dan sungai seperti tercantum pada tabel dan tabel Pelaksanaan Prokasih ini memiliki tiga tujuan, yaitu menurunkan beban pencemaran limbah yang masuk ke sungai, meningkatkan kualitas sungai, dan meningkatkan sumber daya dan kelembagaan dalam pengelolaan kualitas lingkungan dan sumber daya sungai. 2. Pemberian bantuan dana melaui kredit bunga rendah bagi pengusaha yang akan membangun sarana pengolahan air limbah. 3. Pemberian kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan fasilitas air minum. 4. Pemasyarakatan/sosialisasi tentang produksi bersih, gerakan hemat air, program sumur resapan, dan penghijauan. 5. Peningkatan sumber daya manusia bagi aparat, wakil masyarakat/LSM, dan industri kecil dalam upaya pengelolaan air limbah dan penaatan peraturan. 6. Peningkatan sarana dan prasarana sistem perpipaan air limbah dan instalasi pengolahan air limbah melalui kerja sama dengan swasta. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 3 7. Perijinan pembuangan air limbah bagi industri melalui SIPLC Surat Ijin Pembuangan Air limbah dan penegakan hukum bagi industri/kegiatan yang tidak menaati peraturan pembuangan air limbah. Tabel Peningkatan Lingkup Lokasi Kerja Prokasih Sumber BAPEDAL, 1998 Tabel Perkembangan Lingkup Pemantauan Buangan Air limbah Perusahaan Dalam Rangka Pelaksanaan Prokasih Jumlah Perusahaan Dipantau * Dalam Rangka Pengawasan ** Sumber BAPEDAL, 1998 Catatan * Perusahaan yang buangan air limbahnya dipantau dalam rangka Prokasih ** Perusahaan yang termasuk penenda-tangan β€œSurat Pernyataan Prokasih” Berkaitan dengan pengendalian pencemaran air pemerintah juga mengeluarkan perangkat hukum, antara lain berupa PP No. 20 Tahun 1990 yang diperbaharui dengan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Dalam PP disebutkan bahwa setiap orang atau badan yang membuang air limbah wajib menaati baku mutu air limbah sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan air limbah yang telah ditetapkan. Kemudian, setiap orang yang membuang air limbah sebagaimana ditetapkan dalam izin pembuangannya dilarang melakukan pengenceran. Oleh karena itu, pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing dalam rangka pengendalian pencemaran air pada sumber air berwenang untuk a. menetapkan daya tampung beban pencemaran; b. melakukan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar; Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 4 c. menetapkan persyaratan air Iimbah untuk aplikasi pada tanah; d. menetapkan persyaratan pembuangan air Iimbah ke air atau sumber air; e. memantau kualitas air pada sumber air; dan f. memantau faktor lain yang menyebabkan perubahan mutu air. Dalam kegiatan industri , air limbah merupakan masalah utama dalam pengendalian dampak lingkungan karena memberikan dampak yang paling luas, disebabkan oleh karakteristik fisik maupun karakteristik kimianya yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Air limbah industri terutama dihasilkan dari proses produksi. Air limbah akan mengandung zat-zat /kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan kimia yang ditambahkan, produk yang terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti ketel boiler dan sistem air pendingin dan juga sanitary wastes. Untuk menjamin terpeliharanya sumber daya air dari pembuangan limbah industri, pemerintah dalam hal ini Menteri Negara KLH telah menetapkan baku mutu air limbah bagi kegiatan yang sudah beroperasi yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MENLH/10/1995. Agar dapat memenuhi baku mutu, air limbah harus diolah secara benar dan membutuhkan biaya yang besar. Maka prinsip pengendalian pencemaran oleh air limbah harus dilakukan secara cermat dan terpadu yaitu di dalam proses produksi in pipe pollution prevention dan setelah proses produksi end pipe pollution prevention agar pengendalian berlangsung dengan efektif dan efisien. Pengelolaan air limbah dalam proses produksi dimaksudkan untuk meminimalkan minimisasi limbah yang terjadi, yaitu minimal dalam volume limbah, konsentrasi kontaminan dan toksisitas. Sedangkan pengelolaan air limbah setelah proses produksi dimaksudkan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung didalamnya hingga air limbah memenuhi syarat untuk dapat dibuang memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Dengan demikian dalam pengelolaan air limbah untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan memulai upaya minimisasi limbah waste minimization, pengolahan limbah waste treatment, hingga pembuangan limbah disposal. Pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit. Oleh karena itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan yang tepat dan teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah IPAL atau unit pengolahan limbah UPL yang benar, serta pengoperasian UPL yang cermat. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 5 Utamanya dalam perencanaan, apabila perencanaan sudah tidak tepat akan berakibat timbulnya berbagai kesulitan dalam pengoperasian serta biaya tinggi dengan hasil yang tidak memadai. Dalam menentukan/perencanaan desain IPAL terhadap air limbah yang akan diolah hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut ο‚· Kandungan dan jenis zat pencemar dalam air limbah, misal kandungan padatan terlarut dan tersuspensi, kandungan bahan organik dan inorganik, kandungan logam berat, minyak dan lemak serta beberapa kontaminan spesifik seperti senyawa fosfor, nitrogen , sulfat, sianida, dan fenol. ο‚· Jumlah air limbah debit yang harus diolah perhari, serta fluktuasi jumlah air limbah dalam 1 hari, 1 minggu, dan 1 bulan. ο‚· Karakteristik kimia dan fisik dari setiap jenis bahan-bahan tersebut, misalnya sifat toksisitasnya, kemudahan menguap volatility, berat jenis, dsb. Selanjutnya dalam menentukan/menilai suatu desain IPAL hendaknya diperhitungkan faktor-faktor berikut ο‚· Jaminan efektifitas/kemampuan menghilangkan/menurunkan bahan pencemar yang terkandung dalam air limbah ο‚· Ketersediaan lahan ο‚· Kemudahan pengoperasian ο‚· Perimbangan biaya investasi dan biaya operasi ο‚· Produk samping yang dihasilkan, misalnya lumpur, gas-gas dan sebainya, serta cara pengelolaannya. Dengan mempertimbangkan faktor - faktor di atas akan ditentukan metode pengolahan, untuk mendapatkan metode yang ideal memang tidak mudah, akan tetapi sekurang - kurangnya dapat ditentukan skala prioritas terhadap faktor - faktor tersebut. Penghematan terhadap biaya investasi dan operasi terhadap pengolahan air limbah merupakan hal yang penting dalam prinsip pengendalian pencemaran terutama apabila ditinjau dari pihak industri / produsen. Upaya untuk menghemat biaya pengolahan limbah diantaranya adalah dengan menerapkan Cleaner Production. Cleaner Production atau lebih dikenal sebagai Produksi Bersih PRODUKSIH adalah suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terintegrasi untuk mencegah dan atau mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya atau lebih tepatnya pada keseluruhan siklus pembuatan suatu produk sampai dengan upaya untuk menangani produk tersebut setelah tidak diperlukan lagi. Berbagai studi Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 6 menunjukkan bahwa penerapan upaya pencegahan ini akan mampu meningkatkan keuntungan perusahaan, paling tidak akan menurunkan biaya pengolahan limbah. Inti pelaksanaan produksi bersih adalah mencegah, mengurangi dan atau menghilangkan terbentuknya limbah atau pencemar pada sumbernya, diseluruh daur hidup produk yang dapat dicapai dengan menerapkan kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih atau teknologi akrab lingkungan, serta perubahan mendasar dalam sikap atau perilaku manajemen. Pola lain yang lebih mudah dimengerti adalah dengan penerapan konsep 3 R Reduce, Reuse & Recycle mengurangi terbentuknya limbah, menggunakan kembali limbah dan mendaur ulang limbah menjadi produk baru yang lebih berguna Strategi ini bukan merupakan satu-satunya strategi pengelolaan lingkungan tetapi merupakan komponen utama dalam upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelajutan. Strategi ini jauh lebih efektif dalam melindungi lingkungan dibandingkan mengolah limbah setelah terbentuk atau membersihkannya, karena dapat memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus mencapai efisiensi ekonomi. Jadi, upaya pengendalian pencemaran badan air yang disebabkan oleh masuknya air limbah atau bahan lain ke dalam badan air bukanlah hal sederhana, namun perlu pemikiran yang mendalam dari semua pihak. Oleh karena itu, hal penting yang perlu digaris bawahi adalah kendalikan zat pencemar pada sumbernya yaitu dengan pengendalian agar zat pencemar tidak masuk ke dalam perairan, baik dari tingkat rumah tangga sampai industri. Berkaitan dengan hal di atas maka perlu dilaksanakan pengendalian pencemaran air yang mencakup beberapa kegiatan, yaitu 1. Inventarisasi kualitas dan kuantitas air pada sumber air menurut sistem wilayah tata pengairan. 2. Penetapan golongan air menurut peruntukannya, baku mutu air dan baku beban pencemaran untuk golongan air tersebut, serta baku mutu air limbah untuk setiap jenis kegiatan. 3. Penetapan mutu air limbah yang boleh dibuang oleh setiap kegiatan ke dalam air pada sumber air, dan pemberian ijin pembuangannya. 4. Pemantauan perubahan kualitas air pada sumber air dan mengevaluasi hasilnya. 5. Pengawasan terhadap penataan peraturan pengendalian pencemaran air, termasuk penataan mutu air limbah, serta penegakkan hukumnya. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 7 Parameter Kualitas dan Karakteristik Air Limbah Tabel berisi daftar karakteristik dan beberapa kontaminan yang umum terdapat dalam air limbah industri yang menentukan jenis pengolahan selanjutnya. Secara umum, air limbah dapat dikelompokkan berdasarkan parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter kualitas bulk organic merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam aliran limbah. Jenis parameter ini terdiri dari total organic carbon TOC, chemical oxygen demand COD, biochemical oxygen demand BOD, dan minyak dan lemak O&G atau total petroleum hydrocarbons TPH. Parameter-parameter ini bukan merupakan ukuran suatu senyawa tertentu, melainkan lebih kepada kelompok dari senyawa tersebut. Nilai TOC, COD, dan BOD menunjukkan jumlah zat organik yang terdapat dalam aliran limbah yang membutuhkan stabilisasi, atau oksidasi. BOD mengukur senyawa organik yang dapat diolah secara biologis, sementara TOC dan COD masing-masing mengukur jumlah karbon dalam zat organik, dan jumlah karbon yang secara teoretis dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan berbagai zat inorganik teroksidasi. Sebagai contoh, aliran limbah dengan konsentrasi COD atau TOC yang tinggi dan konsentrasi BOD yang rendah menunjukkan bahwa limbah tersebut mengandung zat organik yang tidak dapat mengalami degradasi secara biologis; dan contoh lainnya adalah, konsentrasi COD yang tinggi dan konsentrasi TOC yang rendah menunjukkan bahwa terdapat zat inorganik yang dapat dioksidasi COD inorganik biasanya tidak dapat diolah secara biologis. Parameter O&G / TPH menunjukkan adanya minyak atau senyawa hidrokarbon yang terdapat baik dalam bentuk terlarut / teremulsi atau dalam keadaan bebas. Parameter ini berguna untuk mengukur kualitas organik air limbah hanya bila senyawa-senyawa organik tersebut terdapat dalam jumlah besar seperti dalam air limbah industri pengilangan minyak. Jenis pencemar fisik dalam air limbah terdiri dari total suspended solids TSS, pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi. Beberapa dari karakteristik fisik ini mencerminkan kualitas aestetik dari air limbah seperti warna dan bau , sedangkan karakteristik lain seperti pH dan temperatur, dapat memberikan dampak negatif pada badan air penerima. Kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik. Tabel juga menyajikan beberapa daftar contoh senyawa yang umum. Senyawa spesifik lainnya yang terkandung dalam air limbah bervariasi tergantung dari jenis industrinya , dan kuantitas dalam efluen yang diijinkan dari setiap zat tersebut ditentukan oleh peraturan yang berlaku, yaitu baku mutu air limbah. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 8 Untuk mengetahui karakteristik dari air limbah spesifik , kita harus mengerti juga jenis pengolahan yang dibutuhkan. Tabel merangkum kualitas efluen yang diperlukan untuk ijin pembuangan air limbah sesuai dengan Lampiran C KEP-51/MENLH/10/1995. Tabel Jenis Kontaminan Dalam Air limbah Dapat beracun ; mengurangi oksigen terlarut Dapat beracun ; mengurangi oksigen terlarut Mengurangi oksigen terlarut badan air penerima Merusak vegetasi dan kehidupan akuatik Mempengaruhi turbiditas ; meracuni kehidupan akuatik Asam dan basa dapat meracuni kehidupan akuatik Mempengaruhi kehidupan akuatik Mempengaruhi aestetik dan merusak algae Mempengaruhi kehidupan akutik dan manusia ; aestetik Meracuni kehidupan akuatik Parameter Kontaminan Spesifik Meracuni kehidupan akuatik ; eutrofikasi Meracuni kehidupan akuatik dan manusia Meracuni kehidupan akuatik dan manusia ; aestetik Meracuni kehidupan akuatik dan manusia ; aestetik Meracuni kehidupan akuatik dan manusia ; aestetik Meracuni kehidupan akuatik dan manusia Meracuni kehidupan akuatik dan manusia Keterangan TOC = Total Organic carbon COD = Chemical Oxygen Demand BOD = Biochemical Oxygen Demand TPH = Total Petroleum Hydrocarbons TSS = Total Suspended Solids Tabel Batasan Air Limbah Untuk Industri di Indonesia Zat Padat Tersuspensi TSS Senyawa aktif biru metilen Sumber Lampiran C Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995 Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 9 Teknologi Pengolahan Air limbah Pengolahan air limbah terutama ditujukan untuk mengurangi kandungan bahan pencemar di dalam air, seperti senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di alam. Proses pengolahan dilakukan sampai batas tertentu sehingga air limbah tidak mencemarkan lingkungan hidup. Pengolahan air limbah dapat dibagi atas lima tahap pengolahan, yaitu 1. Pengolahan awal pretreatment 2. Pengolahan tahap pertama primary treatment 3. Pengolahan tahap kedua secondary treatment 4. Pengolahan tahap ketiga tertiary treatment 5. Pengolahan lumpur sludge treatment Pengolahan awal dan tahap pertama melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dari aliran air limbah. Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Tahap ketiga merupakan pengolahan yang dilakukan untuk menghilangkan kontaminan tertentu yang tidak dapat dihilangkan pada pengolahan tahap pertama dan kedua. Tahapan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan dalam mengkategorikan dan melaksanakan pengolahan sesuai dengan beban kandungan suatu air limbah. Kebanyakan dari sistem pengolahan air limbah mempunyai tahap proses dan operasi seperti yang diperlihatkan pada gambar Air limbah masuk dari bagian kiri gambar tersebut dan melalui operasi yang diperlukan untuk mencapai kualitas air yang diinginkan. Kombinasi operasi yang memungkinkan begitu banyak, oleh karena itu setiap situasi harus dikaji untuk menentukan kombinasi terbaik. Sebagai tambahan dari tahap-tahap pengolahan air limbah di atas , juga terdapat empat kelas proses pengolahan limbah yaitu pengolahan secara fisik, kimia, termal, dan biologi. Rangkuman dari masing-masing kelas proses pengolahan air limbah disajikan berturut-turut pada tabel tabel tabel dan tabel Dalam sub bab ini akan dibahas pengolahan awal dan tahap pertama secara singkat dan pengolahan secara biologis tahap kedua. TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB IV – halaman 10 Pretreatment Chemical Physical Dissolved organics Suspended solidsremovalTertiary treatment Sludge treatment Liquid disposalPrimary treatment Secondary treatmentScreen andgrit removalEqualizationand storageOilseparationFlotationSedimentationFiltrationNeutralizationChemicaladdition &coagulationActivatedsludgeAnaerobiclagoonTricklingfilterAeratedlagoonStabilizationbasinRotatingbiologicalcontactorAnaerobiccontactor &filterSedimentationDigestion orwetcombustionCoagulation&SedimentationFiltrationCarbonadsorptionIon exchangeMembraneThickeninggravity orflotationPressurefiltrationVacuumfiltrationCentrifugationLagooning ordrying bedEqualization& storageSedimentationFiltrationNeutralizationIncinerationLandfillOceandisposalReceivingwaterControlled ortransportateddischargeOceanSurfaceapplications orgrounwaterseepageDeep wellinjectionEvaporationincinerationDeep wellinjectionIncinerationDilute wastewaterConcentrated Organics wastewaterGambar Proses Pengolahan Limbah Industri Yang Dapat Dipilih TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB IV – halaman 11 Tabel Rangkuman Proses Fisika Pengolahan Air limbah Pemisahan secara gravitasi Minyak free oil ; padatan tersuspensi - Murah - Tingkat pemeliharaannya rendah - Tidak ada elemen mekanik - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya energi - Emisi zat volatil - Tidak dapat menghilangkan zat yang terlarut - Adanya limbah minyak dan lumpur yang harus dibuang Minyak, lemak, gemuk yang teremulsi , dan padatan halus tersuspensi - Memecahkan emulsi mekanik - Murah - Relatif aman - Emisi zat volatil - Tidak dapat menghilangkan zat yang terlarut - Membutuhkan zat kimia aditif - Tingkat pemeliharaannya tinggi - Biaya energi tinggi - Adanya limbah yang berbuih Minyak free / emulsified oil - Tingkat pemeliharaannya rendah - Tidak ada elemen mekanik - Memecahkan emulsi mekanik - Tidak ada penambahan zat kimia - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya energi - Tidak dapat menghilangkan zat yang terlarut - Adanya limbah minyak - Tidak dapat memecahkan emulsi kimia Zat organik volatil, pengurangan volume air - Mengurangi volume limbah - Menghilangkan kontaminan terlarut - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Emisi zat volatil - Biaya energi yang tinggi - Mudah terjadi fouling - Pemeliharaannya sulit Minyak free / emulsified oil; padatan tersuspensi - Menghilangkan beberapa kontaminan terlarut - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya investasi - Mudah terjadi fouling - Perlu backwashing - Adanya bau , pertumbuhan bakteri - Tingkat pemeliharaannya tinggi Senyawa organik , beberapa senyawa inorganik - Menghilangkan kontaminan terlarut - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya investasi - Mudah terjadi fouling - Adanya bau , pertumbuhan bakteri - Tingkat pemeliharaannya tinggi - Perlu regenerasi atau mengganti media adsorpsi Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 12 Tabel Rangkuman Proses Fisika Pengolahan Air limbah Lanjutan Zat organik volatil, dan beberapa zat organik semivolatil - Menghilangkan kontaminan terlarut - agak aman - Rendah biaya investasi - Emisi zat volatil - Biaya energi yang tinggi - Mudah terjadi fouling - Pemeliharaannya sulit - Tidak dapat menghilangkan zat inorganik Senyawa organik , beberapa senyawa inorganik - Menghilangkan kontaminan terlarut - agak aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya investasi - Emisi zat volatil - Biaya energi yang tinggi - Pemeliharaannya sulit - Adanya aliran limbah tambahan yang perlu diolah kembali Tabel Rangkuman Proses Kimia Pengolahan Air limbah - Menghilangkan senyawa terlarut - Tingkat pemeliharaannya rendah - Metals recovery - Agak aman - Mudah dioperasikan - Rendah biaya energi - Emisi zat volatil - Adanya lumpur yang harus dibuang - Perlunya penanganan dan penyimpanan reaktan - Presipitasi bersifat selektif - Membutuhkan zat kimia aditif Logam, zat organik dan inorganik berkonsentrasi tinggi - Menghilangkan senyawa terlarut - Metals recovery - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Tidak menghasilkan lumpur - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Bersifat selektif - Mudah terjadi fouling Logam, zat organik dan inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Metals recovery - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Air dapat digunakan kembali - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Bersifat selektif - Mudah terjadi fouling Logam, zat organik dan inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Metals recovery - Relatif aman - Mudah dioperasikan - Air dapat digunakan kembali - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Bersifat selektif - Mudah terjadi fouling Zat organik dan beberapa inorganik berkonsentrasi tinggi - Menghilangkan kontaminan terlarut - Pengolahan tingkat tinggi - Tidak ada aliran limbah - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Bersifat selektif - Sulit dioperasikan Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 13 Tabel Rangkuman Proses Termal Pengolahan Air limbah Zat organik berkonsentrasi tinggi, senyawa toksik - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Tidak perlu secondary treatment - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Sulit dioperasikan - Agak tidak aman Zat organik berkonsentrasi tinggi, senyawa toksik - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Tidak perlu secondary treatment - Bersifat self-sustaining - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Sulit dioperasikan - Agak tidak aman Zat organik berkonsentrasi tinggi, senyawa toksik - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Biaya operasi dan investasi tinggi - Pemeliharaannya sulit - Biaya energi tinggi - Sulit dioperasikan - Agak tidak aman - Perlu pengolahan gas buang off-gas Tabel Rangkuman Proses Biologis Pengolahan Air limbah Zat organik dan beberapa inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Tingkat pemeliharaan yang rendah - Relatif aman - Biaya investasi rendah - Relatif mudah dioperasikan - Emisi zat volatil - Adanya lumpur yang harus dibuang - Biaya energi yang agak tinggi - Mudah terganggu oleh adanya shock loading dan senyawa toksik - Mudah terpengaruh oleh perubahan iklim Laguna teraerasi / Kolam ekualisasi Zat organik dan beberapa inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Tingkat pemeliharaan yang rendah - Relatif aman - Biaya investasi rendah - Biaya energi rendah - Mudah dioperasikan - Tidak sering Menghasilkan lumpur - Emisi zat volatil - Butuh lahan yang luas - Mudah terganggu oleh adanya shock loading dan senyawa toksik - Mudah terpengaruh oleh perubahan iklim - Tidak ada pengendalian operasi Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 14 Tabel Rangkuman Proses Biologis Pengolahan Air limbah Lanjutan Trickling filters, Fixed-film reactors Zat organik dan beberapa inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Tingkat pemeliharaan yang rendah - Relatif aman - Menghasilkan lumpur yang relatif sedikit - Emisi zat volatil - Mudah terganggu oleh adanya shock loading dan senyawa toksik - Mudah terpengaruh oleh perubahan iklim - Biaya operasi dan investasi yang relatiftinggi - Mudah terjadi fouling Zat organik, organik terklorinasi, dan beberapa inorganik berkonsentrasi rendah - Menghilangkan senyawa terlarut - Proses penghancuran - Dapat mengolah limbah yang terklorinasi - Menghasilkan metana - Mengurangi pembentukan lumpur - Mudah terganggu oleh adanya shock loading dan senyawa toksik - Mudah terpengaruh oleh perubahan iklim - Biaya operasi dan investasi yang relatiftinggi - Biaya energi yang tinggi jika tidak ada recovery metana Pengolahan Awal dan Tahap Pertama Tujuan dari pengolahan awal dan tahap pertama adalah untuk meminimalkan variasi konsentrasi dan laju alir dari air limbah dan juga menghilangkan zat pencemar tertentu. Terhadap beberapa jenis air limbah perlu diberikan pengolahan awal untuk menghilangkan zat pencemar yang tak terbiodegradasi atau beracun, agar tidak mengganggu proses-proses selanjutnya. Sebagai contoh air limbah yang akan ditangani secara biologis harus memenuhi criteria tertentu yaitu pH antara 6-9 ; total padatan tersuspensi 45oC. Laju reaksi Mm sangat tergantung pada temperatur. Laju reaksi akan bertambah dengan kenaikan temperatur di atas 10oC. Dua kondisi optimum terjadi pada temperatur dekat 35oC untuk mikroorganisme mesophilic 33oC- 42oC Stamps, 1989, dan antara 55-60oC untuk termophilic Stamps, 1989 ; Malina dan Difilippo, 1971. Pada temperatur 70oc atau di atasnya laju pertumbuhan MM akan turun. MM pengguna asetat yaitu Methanosarcina yang bersifat termophilic disebut sebagai MethanosarcinaTM-1, dapat pula tumbuh pada temperatur lain, karena asetat sangat baik terdegradasi menjadi biogas pada 60oC. Sampai sekarang semua MM lainnya digambarkan sebagai tipe mesophilic. Walaupun kenyataan bahwa produksi gas lebih banyak diperkirakan diperoleh pada rentang thermophilic, namun sangat jarang dilakukan. Karena memerlukan energi yang besar untuk menjaga reaktor pada temperatur yang tinggi. Selain itu mikroorganisme thermophilic sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan disbanding mikroorganisme mesophilic. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 30 Sistem anaerobik sebaiknya dioperasikan pada temperatur yang dijaga konstan. Fluktuasi ini tidak boleh melebihi 2oC per hari Mossey, 1980. Temperatur yang konstan diperlukan karena perbedaan kelaukan dari tiga grup trofik. MA lebih cepat menyesuaikan terhadap perubahan kondisi daripada MM. Hal tersebut menyebabkan akumulasi produk asam-asam organik. Akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan yang dapat menjurus pada kegagalan proses. Mempertimbangkan hal tersebut maka temperatur yang seragam lebih penting daripada menjaga temperatur yang memberikan laju maksimum. 3. Hubungan pH dan Asam Volatil Pertumbuhan mikroorganisme proses anaerobik sangat dipengaruhi pH. Hal ini akan berpengaruh pada produksi gas metana. MM pengguna hidrogen sangat sensitif terhadap perubahan pH. Pada umumnya pertumbuhan MM akan terjadi pada rentang yang relatif dekat dengan pH optimum. Proses konversi anaerobik pada umumnya beroperasi optimal pada ph mendekati netral. Pada pengamatan salah satu spesies MM dalam digester, rentang pertumbuhan menunjukkan pH dari 6,5 hingga 7,7 Grady dan Lim, 1980. Rentang pH optimal pada pengolahan air limbah adalah pada pH 6 hingga 8. Hal ini disebabkan MM mempunyai pH optimum 6 hingga 8 untuk pertumbuhannya. Penyimpangan dari kondisi pH optimum antara lain disebabkan oleh umpan dari substrat, produksi yang berlebihan dan akumulasi dari produk asam atau basa seperti asam-asam lemak organik. Percobaan dilakukan dengan mengamati pengaruh substrat yaitu format terhadap MM pengguna hidrogen. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa MM hampir seluruhnya terhambat pada pH di bawah 6,2. Aktivitas mikroorganisme hidrogen menurun pada pH sedikit asam 6,3 hingga 6,6. Beberapa masalah akan timbul bila pH turun di bawah 6,5 Sahm, 1984. Hal ini disebabkan asam-asam lemak berakumulasi menyebabkan turunnya pH. Ketika pH mencapai 4,5 maka tak ada gas metana yang diproduksi, karena pada pH 4,5 MM yang mungkin rusak tak dapat diperbaiki lagi. Gangguan ph biasanya ditandai dengan kenaikan asam-asam volatil secara mencolok kesetimbangan dapat dikembalikan dengan cara merduksi laju umpan reaktor beberapa hari atau dengan penambahan senyawa-senyawa alkali seperti CaOH2. Konsentrasi asam-asam volatil dan alkalinitas selama proses anaerobik tergantung konsentrasi dan komposisi air limbah. Pada air limbah yang lebih encer maka asam volatil dan alkalinitas relatif lebih Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 31 rendah disbanding air limbah yang lebih pekat. Maka dari itu rasio antara asam-asam volatil dan alkalinitas menjadi kriteria terbaik untuk menilai kestabilan sistem. Rasio total asam volatil sebagai asam asetat dibanding alkalinitas sebagai CaCO3 disarankan lebih kecil dari 0,1 Sahm, 1984. Bioreaktor Anaerob dan Penerapannya Beberapa sistem pengolahan air limbah yang memenfaatkan proses anaerobik disajikan pada gambar Reaktor saringan anaerobik Anaerobic Filter Reactor mirip dengan saringan percik aerobik. Lapisan biomassa tumbuh pada permukaan medium penunjang dengan aliran air dapat dari atas atau bawah. Proses kontak anaerobik reaktor mirip dengan sistem lumpur aktif, terdiri dari sebuah reaktor kemudian diikuti dengan tangki pengendap clarifier dan sebagian dari lumpur dibalikkan ke dalam reaktor. Reaktor unggun-terfluidisasi anaerobik anaerobic fluidize-bed reactor menggunakan pasir sebagai media penunjang pertumbuhan mikroorganisme. Aliran dari bawah ke atas, sehinggga bioparticle pasir + lapisan luar mikroorganisme berada dalam keadaan terfluidisasi. Upflow Anaerobik-Sludge Blanket UASB agak mirip dengan unggun terfluidisasi, hanya saja tidak diperlukan media penunjang. Mikroorganisme anaerobik membentuk gumpalan floc yang menyerupai selimut blanket. Pada umumnya, reaktor unggun-terfluidisasi adalah sistem yang paling efisien, tetapi juga paling mahal. Tabel memperlihatkan kinerja performance reaktor unggun terfluidisasi dengan reaktor saringan dan UASB untuk air limbah dengan konsentrasi mg COD/l yang berasal dari pabrik kertas. Efisiensi pengurangan COD untuk proses anaerobik berkisar antara 85-90%. Tetapi yang perlu dicatat adalah aliran masuk ke dalam reaktor mengandung COD yang tinggi, sehingga aliran keluar belum memenuhi standar yang ada, untuk itu diperlukan pengolahan lebih lanjut, misalnya dengan proses aerobik. Penggunaan sistem anaerobik pada pengolahan limbah industri disajikan pada tabel Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 32 WastewaterEffluentrecycleEffluentOffgasPacked BedAnaerobic FilterReactorAnaerobic ContactReactorFluidized-BedReactorWastewaterFluidized bed sandOffgasEffluentEffluentrecycleWastewaterOffgasDegasifierEffluentClarifierSolid recycleWastewaterOffgasEffluentSludge blanketUpflow AnaerobicSludge BlanketUASBGambar Berbagai Jenis Reaktor Yang Digunakan Untuk Mengolah Air Limbah Secara Anaerobik Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 33 Tabel Penggunaan Proses Anaerobik dalam Skala Industri Milk processing / cheese production Tabel Kinerja Reaktor Unggun Terfluidisasi Dengan Reaktor Saringan dan UASB Untuk Limbah Pabrik Kertas Upflow Anaerobik Sludge blanket Hydraulic retention time, s Organics loading, kg COD/m3-s Organics removed, % COD BOD Methane generated, m3/kg COD removed Suspended solids, mg/L Feed Effluent Basis Paper mill foul condensate, COD = mg/L Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 34 Bioreaktor Membran Untuk Pengolahan Air limbah Bioreaktor membran yang banyak digunakan untuk pengolahan air limbah merupakan kombinasi dari teknologi pemisahan membran Membrane Separation Technology dengan bioreaktor. Secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut limbah yang mengandung zat organik masuk ke dalam bioreaktor tangki aerasi untuk mengalami reaksi degradasi dan oksidasi. Kemudian cairan beserta biomassa dari tangki aerasi dipompakan ke unit filtrasi membran, sehingga biomassa dapat dipisahkan dari air yang telah diolah treated water. Filtrat akan sebagai aliran keluar, sedangkan konsentrat biomassa disirkulasikan balik ke tangki aerasi. Biomassa berlebih dapat dikeluarkan secara berkala melalui kerangan lumpur. Pengolahan air limbah konvensional secara aerobik Activated Sludge sangat sulit ditingkatkan kemampuan pembebanannya, sehingga seringkali diperlukan luas lahan yang cukup besar untuk pengolahan limbah. Hal ini disebabkan oleh dibatasinya konsentrasi mikroba maksimum dalam tangki aerasi yaitu sekitar 5 – 8 kg/m3. Apabila batas ini dilewati akan muncul masalah dalam pengendapan di bak sedimentasi, sehingga kualitas keluaran effluent akan memburuk. Dengan luas lahan yang cukup besar, maka biaya investasi akan meningkat. Di samping itu, dalam banyak kasus, industri tertentu seringkali menghadapi kendala lahan, sehingga pemakaian pengolahan limbah konvensional tidak memungkinkan. Dalam kasus-kasus seperti ini bioreaktor membran akan merupakan alternatif teknologi. Beberapa hal pokok yang membedakan bioreaktor membran dengan teknologi aerobik konvensional dikemukaan oleh van Dijk, dkk 1997, yaitu ο‚· Konsentrasi biomassa tinggi konsentrasi biomassa dapat mencapai 35 kg/m3. hal ini akan mempercepat degradasi zat pencemar. Ukuran tangki aerasi bias menjadi relatif kecil dibandingkan dengan teknologi konvensional. ο‚· Produksi panas per satuan volume reaktor meningkat akibat tingginya aktivitas mikroba, maka panas yang dilepaskan per satuan volume reaktor meningkat. Reaktor dapat bekerja pada temperatur 35-40oC yang seringkali merupakan temperatur optimum bagi proses biologis. ο‚· Konsumsi oksigen dengan konsentrasi biomassa yang tinggi maka kebutuhan oksigen per satuan waktu akan meningkat pula. Untuk mencapai keadaan ini diperlukan sistem pemasok oksigen yang baik agar reaktor bisa tetap kompak. ο‚· Kualitas keluaran sangat baik ini biasa dipahami karena keluaran harus melalui membran terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Hal ini memperbesar peluang penggunaan kembali keluaran tersebut. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 35 ο‚· Produksi biomassa rendah produksi biomassa pada bioreaktor membran relatif rendah dibandingkan dengan sistem konvensional, akaibat temperatur yang tinggi dan pembebanan F/M yang rendah. Penerapan bioreaktor membran dalam skala nyata telah dipakai untuk mengolah landfill leachate, limbah dari industri kimia, industri kulit dan kertas / pulp. Penerapan bioreaktor membran, saat ini, masih agak terbatas akibat diperlukannya energi yang tinggi untuk mempertahamkan supaya kecepatan alir silang dan permeabilitas membran tetap tinggi. Hal tersebut menimbulkan biaya yang cukup tinggi untuk pemisahan dengan membran. Dengan menggunakan membran hollow-fibre dan teknik-teknik tertentu kebutuhan energi dapat diturunkan secara nyata, di samping itu pengendalian terhadap pemisahan membran dapat diatasi. Hal lain yang perlu dicatat adalah harga membran cenderung menurun secara nyata dalam sepuluh tahun terakhir ini. Hingga saat ini, bioreaktor membran digunakan dalam skala nyata untuk mengolah air limbah yang relatif pekat, karena biaya pemisahan dengan membran masih relatif mahal. Pengembangan teknologi membran dengan energi rendah dan biaya membran yang cenderung makin murah menciptakan kemungkinan penggunaan bioreaktor membran menjadi lebih luas. Teknologi ini membuka peluang penggunaan kembali air limbah, baik limbah industri maupun domestik, pengurangan lumpur yang terbentuk dan luas lahan yang relatif kecil small foot print. Pemilihan Proses Pengolahan Air limbah Pemilihan teknologi pengolahan air limbah tidak terlepas dari pemahaman masing-masing proses yang terlibat. Dengan mempertimbangkan keuntungan serta kerugian dari setiap proses maka dapat dipilih proses yang paling tepat sehingga dihasilkan teknologi pengolahan limbah yang efisien, baik dalam biaya investasi dan operasi dan energi serta efektif dalam menghasilkan kualitas efluen yang sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Langkah pertama dalam memilih proses yang tepat adalah mengkelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah menggunakan indikator parameter seperti dalam tabel Pemilihan parameter dapat dibuat dengan menjawab daftar pertnyaan seperti yang disajikan pada tabel berikut. Lecture Notes TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB V – halaman 36 Tabel Checklist’ Karakteristik Air limbah Apakah proses manufaktur melibatkan zat inorganik sebagai bahan baku, produk samping, atau produk akhir ? Logam total Alkalinitas COD TDS Kontaminan spesifik lainnya Apakah proses manufaktur melibatkan zat organik sebagai bahan baku, produk samping, atau produk akhir ? TOC BOD COD optional Minyak dan lemak / TPH Kontaminan spesifik lainnya Apakah proses menghasilkan aliran limbah yang bersifat asam atau basa ? Apakah proses menghasilkan aliran limbah bertemperatur tinggi ? Apakah aliran limbah mengandung padatan ? Apakah aliran limbah mengandung senyawa nitrogen ? Apakah aliran limbah mengandung senyawa sianida ? Total sianida Sianida reaktif Apakah aliran limbah mengandung senyawa sulfur ? Apakah aliran limbah mengandung senyawa fosfor ? Apakah aliran limbah mengandung surfaktan atau buih dalam jumlah besar ? Apakah aliran limbah mengandung senyawa toksik ? Total Organics Toxic Logam berat / toksik Setelah kontaminan dalam air limbah dikarakteristikkan, diagram alir seperti pada gambar dapat digunakan untuk menentukan proses apa saja yang diperlukan dalam pengolahan air limbah. Pada tahap ini, pertimbangan secara detail sebaiknya dilakukan yaitu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, keamanan, kehandalan, dan kemudahan mengoperasikannya. Setelah pertimbangan detail perlu juga dilakukan studi kelayakan dan jika perlu percobaan skala lab / pilot yang bertujuan ο‚· Memastikan bahwa teknologi yang telah dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik air limbah yang akan diolah. ο‚· Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan. ο‚· Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya dari teknologi pengolahan air limbah yang dimaksud. TK- 366 Pengelolaan Limbah Industri BAB IV – halaman 37 Aliran air limbahInorganik OrganikPretreatmentInsinerasi atau wetair oxidationyayayayayaOff-gas treatmentLimbah PadatFilter atauregenerasi mediaadsorpsiSolid / Concentrated PhasePerlunyaPretreatmentuntuk netralisasitidakDapatterbiodegradasiPerlunyapretreatmentpenghilanganminyak dan lemakTersedia ruanglahan yang luasPerlunya aerasiPerlunya solidsrecoveryKolam ekualisasitidaktidakyatidakyaAir / SteamStrippingKoagulasi,flokulasi, dansedimentasiFiltrasi atauAdsorpsi karbonaktifEvaporasi atauekstraksiPemisahan minyak/ airTrickling filteratau Fixed-filmBiotreatmentLumpur aktif atauaerated lagoonAnaerobictreatmentyayatidakyaMengandungkontaminan yangdapat di-strippingmis. amoniaMengandungkontaminan yangdapat dipresipitasiMengandungkontaminan yangdapat disaring ataudiadsorbLimbah dapatdimanfaatkankembali ataudireduksivolumenyaLimbah harusdihancurkantidaktidaktidaktidakMengandungkontaminan yangdapat di-strippingMengandungkontaminan yangdapat disaring ataudiadsorbLimbah dapatdimanfaatkankembali ataudireduksivolumenyaLimbah harusdihancurkantidaktidaktidaktidakMengandungkontaminan yangdapat dioksidasiatau direduksisecara kimiaminyaktidak yayayayaInsinerasi atau wetair oxidationAir / SteamStrippingOksidasi / reduksikimiaEvaporasi atauekstraksiSolid / Concentrated PhaseFiltrasi atauAdsorpsi karbonaktifFilter atauregenerasi mediaadsorpsiOff-gas treatmentGambar Diagram Alir Penentuan Teknologi Pengolahan Air limbah Yang Tepat ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.